Apakah muharrom bulan yang mendatangkan kesialan ?
Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa bulan Muharram adalah bulan sial, katanya Bulan muharrom banyak mendatangkan bahaya atau kesialan sehingga sebagian dari kaum muslimin bahkan tidak berani melakukan jual beli atau mengadakan pernikahan dan lain sebagainya. Keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang bathil serta kesesatan yang nyata.
Karena meyakini adanya hari atau bulan sial merupakan bentuk celaan terhadap waktu yang Allah ciptakan, dan itu bentuk celaan terhadap Allah yang telah menciptakan waktu .
Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
“لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ؛ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ”.
“Janganlah kalian mencela dahr (waktu) karena Allah itu adalah dahr”. (HR Muslim no. 5827 dari Abu Hurairah).
Maksudnya bahwa Allah adalah pencipta waktu, sebagaimana terdapat dalam riwayat lain yang menjadi penafsir hadits di atas. Dan mencela ciptaan Allah beresiko mencela Penciptanya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
“قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: يُؤْذِيْنِيْ ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ، وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِيَ الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ”.
“Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Anak Adam telah menyakiti-Ku; ia mencela dahr (waktu), padahal Aku adalah (pencipta) dahr. Di tangan-Ku segala perkara, Aku memutar malam dan siang”. (HR. Bukhari no. 5827 dan Muslim no. 5824 dari sahabat Abu Hurairah RadhiyalLahu ta’ala Anhu )
Dan bagaimana mungkin bulan yang diagungkan oleh Allah Azza wa Jalla, bulan yang diagungkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti dalam sabdanya :
“أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ”.
“Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah; Muharram. Dan shalat paling utama sesudah shalat fardhu adalah shalat malam”.( HR. Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah)
Bisa membawa kesialan atau membawa madharat,
Sebaliknya bulan Muharram merupakan bulan kebaikan, maka isilah bulan ini dengan amalan-amalan shalih dengan ketaatan kepada Allah -تعالى – sehingga kita menjadi hamba-hambaNya yang mendapatkan keridhaan Allah -تعالى- .
Wallahu A’lam
Al faqir ila afwi rabbihi
Abu hanan Abdullah amir Maretan
